TENTANG AKU

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Pernah menjadi guru berprestasi tingkat nasional tahun 2003, sekarang masih mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 1 Tengah Tani Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Untuk menambah tantangan dan membuka wawasan, saya juga menjadi guru di Unswagati Cirebon, Akbid Muhammadiyah Cirebon, serta Aktif mengurusi MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Cirebon dan Provinsi Jawa Barat.
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2011

Pengembangan Bahan Ajar

UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL
TAHUN AKADEMIK 2010/2011


Mata Kuliah : Pengembangan Materi Bahasa dan Sastra
SKS : 3 SKS
Kode MK : GB1306
Hari,Tanggal : Kamis, 2 Desember 2010
Dosen : Drs. Jaja, M.Hum.
Mahasiswa : Rudianto

1. Pengembangan materi ajar bahasa dan sastra Indonesia merupakan salah satu kegiatan implementasi kurikulum.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Undang-Undang No.20 TH. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Kurikulum merupakan salah satu elemen penting dalam pembelajaran. Namun sehebat apapun kurikulum, kalau gurunya tidak mampu mengembangkan dan menjabarkan kurikulum tersebut, pengajaran tidak akan berhasil. Jadi cukup penting penjabaran kurikulum dilakukan oleh guru.
Dalam rangka implementasi kurikulum guru berperan penting sebagai ujung tombak pelaksana kurikulum. Sebab tidak akan bermanfaat kurikulum kalau tidak diimlementasikan di dalam kelas.
Salah satu implementasi kurikulum adalah pengembangan materi ajar. Sesuai dengan pengertian di atas kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran. Materi ajar dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terdapat dalam peraturan mentri nomor 22 tahun 2006. Dalam standar isi itu terdapat standar kompetensi dan kompetensi dasar (SK dan KD).
SK dan KD merupakan pondasi untuk mengembangkan bahan ajar atau materi ajar. SK dan KD merupakan batasan bahan ajar yang dijadikan sebagai bahan kajian bagi siswa belajar. SK dan KD yang sifatnya masih umum harus dikembangkan menjadi bahan ajar yang sesuai dengan indicator yang sudah kita tentukan. Hal ini dilakukan melalui tahapan pemetaan, analisis SK dan KD, pembuatan silabus dan RPP.
Pengembangan bahan ajar merupakan salah satu kegiatan dalam perencanaan kurikulum oleh guru. Banyak hal yang bias dijadikan ebagai bahan ajar bias buku, film, video, internet, alam terbuka dan sebagainya sesuai dengan asaran yang harus dicapai sesuai dengan SK dan KD.
Jadi jelas, Pengembangan bahan ajar merupakan bentuk implementasi kurikulum.

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Bahan Ajar dan Media. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran (Pengembangan Standar Kompetensi Guru). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Subyantoro, dkk.. 2004. Materi PelatihanTerintegrasi Bahasa Indonesia (Pengembangan Materi Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia). Jakarta: Depdiknas.
Sumiati dan Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.
www.ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_smk/01.ppt


2. Landasan konseptual dan operasional yang mendasari pengembangan materi ajar bahasa dan sastra Indonesia.

Pengembangan materi ajar Bahasa dan Sastra Indonesia harus sesuai dengan pendekatan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yaitu pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif lebih menekankan pembelajaran Bahasa dan sastra Indonesia sebagai alat komunikasi bukan bahasa sebagai ilmu. Artinya tidak ada materi ajar tentang bahasa dan sastra.
Materi ajar dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia lebih menekankan pada wacana. Wacana dalam hal ini adalah wacana yang digunakan dalam berbagai komunikasi. Bias wacana lisan dan tulis, wacana sastra dan non-sastra, wacana formal dan non-formal, wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi atau persuasi, dan beragam wacana lainnya.
Pemilihan materi ajar, dalam hal ini wacana, harus memperhatikan landasan konseptual dan oprasional. Berikut adalah criteria wacana yang terpilih.
a. Sesuai dengan tujuan pembelajaran. Apabila wacana sesuai dengan tujuan pembelajaran, wacana itu berarti sesuai dengan SK dan KD, sesuai dengan tujuan Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, sesuai juga dengan Tujuan Pendidkan Nasional.
b. Relevan dengan kebutuhan siswa. Relevasi dengan kebutuhan siswa baik sekarang maupun pada masa yang akan dating setelah mereka hidup di masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendekatan life skill.
c. Kontekstual. Materi atau wacana yang kontekstual adalah wacana yang dekat dengan lingkungan siswa. Wacana yang dipilih harus wacana yang berpijak pada kehidupan siswa,
d. Sesuai dengan tingkat siswa. Materi yang dipilih harus sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, usia siswa, psikologi siswa, dan tingkat sosial siswa. Hal ini tentu saja sesuai dengan tingkat kesulitan materi ajar.
e. Menarik. Materi ajar herus mampu menarik minat siswa karena memang disukai oleh siswa. Materi yang menarik didasari oleh kebutuhan siswa, kehidupan siswa, dan bahasa yang sederhana.
f. Praktis. Materi ajar yang praktis artinya memiliki kemudahan dan ketepatan ketika digunakan dalam proses pembelajaran. Materi ajar jangan sampai jadi penghalang untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Jangan menggunakan materi ajar sementara media ajarnya sulit didapat.
g. Menantang. Materi ajar yang diberikan dalam pembelajaran harus menjadikan masyarakat belajar, dalam hal ini siswa dan guru, penasaran untuk belajar lebih dalam dan luas.
h. Kaya aksi. Materi ajar harus mampu mendorong dan member ruang kepada siswa untuk menunjukkan atau mengaplikasikan kemahiran berbahasa.

Daftar Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Bahan Ajar dan Media. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran (Pengembangan Standar Kompetensi Guru). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Subyantoro, dkk.. 2004. Materi PelatihanTerintegrasi Bahasa Indonesia (Pengembangan Materi Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia). Jakarta: Depdiknas.


3. Pengembangan materi ajar dan pengembangan buku ajar bahasa dan sastra Indonesia.

Pengembangan materi ajar dan pengembangan buku ajar adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab materi ajar adalah hal-hal yang digeluti siswa ketika proses pembelajaran terjadi sesuai dengan sasaran pembelajara. Buku ajar adalah salah satu sarana yang bisa dijadikan sebagai sumber materi ajar.
Buku ajar dikembangkan secara umum sedangkan bahan ajar dikembangkan sesuai dengan karakteristik pembelajaran. Pengembangan materi ajar harus berpedoman kepada standar isi sedangkan pengembangan buku ajar harus berpatokan kepada bahan ajar yang dibutuhkan.

Daftar Pustaka
Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran (Pengembangan Standar Kompetensi Guru). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Subyantoro, dkk.. 2004. Materi PelatihanTerintegrasi Bahasa Indonesia (Pengembangan Materi Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia). Jakarta: Depdiknas.






4. Presedur dan prinsip pengembangan materi ajar bahasa dan sastra Indonesi.

A. PROSEDUR PEMILIHAN BAHAN AJAR
Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru di satu pihak dan harus dipelajari siswa di lain pihak hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi.
Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar. Secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi pertama, mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah kedua adalah mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Langkah ketiga, memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi. Keempat, adalah memilih sumber bahan ajar.
Secara lengkap, langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.
Setiap aspek standar kompetensi tersebut memerlukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang berbeda-beda untuk membantu pencapaiannya.

2. Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran
Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur (Reigeluth, 1987).
a. Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya.
b. Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi.
c. Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma, teorema.
d. Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut, misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin atau cara-cara pembuatan bel listrik.
e. Materi pembelajaran aspek afektif meliputi: pemberian respon, penerimaan (apresisasi), internalisasi, dan penilaian.
f. Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin, dan rutin.

3. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar
Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar kompetensi.
Berpijak dari aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan “jembatan keledai”, “jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur adalah “demonstrasi”.
Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau psikomotorik. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi jenis materi pembelajaran:
a. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa mengingat nama suatu objek, simbul atau suatu peristiwa? Kalau jawabannya “ya” maka materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah “fakta”.
Contoh:
Jenis-jenis karangan, jenis-jenis paragraph, genre karya sastra.
b. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa kemampuan untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi ? Kalau jawabannya “ya” berarti materi yang harus diajarkan adalah “konsep”.


Contoh :
Seorang guru menunjukkan beberapa karangan kemudian siswa diminta untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan mana yang termasuk karangan narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
c. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau membuat sesuatu ? Bila “ya” maka materi yang harus diajarkan adalah “prosedur”.
Contoh :
Langkah-langkah membuat karangan argumentasi, cara-cara membaca sanjak.
d. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antara berbagai macam konsep ? Bila jawabannya “ya”, berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam kategori “prinsip”.
Contoh :
Cara menulis pantun dan syair, kalimat yang baku.
e. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa memilih berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka tidak suka, indah tidak indah? Jika jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan berupa aspek afektif, sikap, atau nilai.
Contoh:
Apresiasi karya sastra.
f. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa melakukan perbuatan secara fisik? Jika jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah aspek motorik.
Contoh:
Dalam pelajaran membaca, siswa diharapkan mampu membaca 250 kata permenit. Materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah teknik membaca cepat.




4. Memilih sumber bahan ajar
Setelah jenis materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media audiovisual, buku lektronik, dan sebagainya.

B. PRINSIP-PRINSIP PEMILIHAN BAHAN AJAR
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan.
Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebagai misal, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau ghbahan hafalan.
Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.



DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar. Jakarta: Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Materi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Sekolah Menengah Atas.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Bahan Ajar dan Media. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran (Pengembangan Standar Kompetensi Guru). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Subyantoro, dkk.. 2004. Materi PelatihanTerintegrasi Bahasa Indonesia (Pengembangan Materi Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia). Jakarta: Depdiknas.
Suderadjat, Hari. 2004. Implementasi Kurikulum Berbsis Kompetensi. Bandung: CV Cipta Cekas Grafika.
Sumiati dan Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.
www.ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_smk/01.ppt

Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia

1. Pengembangan materi ajar bahasa harus mempertimbangkan SK, KD, Indikator, dan tujuan pembelajaran .

Pengesahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diawali dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Permen Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permen Nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulasan.
Standar Isi (SI) mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Lingkup materi minimal dalam hal ini dibuktikan dengan hanya munculnya Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) saja dalam SI.
Standar Isi yang berisi SK dan KD ini merupkan bekal guru untuk membuat perencanaan pembelajaran. Langkah pengembangan SK dan KD berikut dari seorang guru adalah mengembangkan SK dan KD ke dalam silabus. Silabus yang dibuat oleh guru harus menunjukan rencana pengajaran yang paripurna. Silabus dapat menggambarkan arah pembelajaran yang akan dilakukan guru di dalam kelas.
Melalui silabus kita akan mendapatkan bentuk dan isi pembelajaran. Sebab silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Silabus akan menggambarkan secara utuh pembelajaran, begitu juga materi ajar. Pengembangan materi ajar dengan sendirinya akan diarahkan oleh silabus yang dibuat oleh guru. Pengembangan materi ajar akan berpatokan kepada SK, KD, dan indicator sebagai arah pencapaian pemebelajaran.
Indicator sangat penting dalam pengembangan materi ajar. Sebab indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan SK-KD. Indikator berfungsi sebagai berikut :
1. Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran
Pengembangan materi pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan.
2. Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran
Desain pembelajaran perlu dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai secara maksimal. Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut kompetensi dominan pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat dengan strategi discovery-inquiry.
3. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar
Bahan ajar perlu dikembangkan oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator sehingga dapat meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal.
4. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar
Indikator menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis penilaian, serta pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan SK dan KD.
Dari keempat fungsi indikator tersebut ada dua fungsi yang berhubungan dengan pengembanga materi ajar yaitu nomor 1 dan 3.
Setelah ada indikator dalam silabus, pengembangan materi ajar juga harus mempertimbangan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini dikembangkan oleh guru dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tujuan pembelajaran merupakan hasil yang akan diraih melalui pembelajaran.Dengan demikian, materi ajar harus mampu menjadi alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Jadi jelas pengembangan materi ajar harus mempertimbangkan, bahkan berpedoman kepada SK, KD, indikator, dan tujuan pembelajaran.

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Bahan Ajar dan Media. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Materi Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Indikator. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional





2. Kelemahan dan kelebihan pengembangan materi ajar dalam bentuk linear dan main map.
Pengembangan penyajian materi pembelajaran sangat penting. Tanpa urutan yang tepat, akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya, terutama untuk materi yang berkelanjutan. Misalnya materi kata, frase, dan klausa. Siswa akan mengalami kesulitan mempelajari klausa, jika belum mempelajari frasa. Siswa akan mengalami kesulitan menghitung frasa dalam kalimat jika belum tahu kata dan fungsinya.
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat dikembangkan melalui bentuk linear dan main map. Kedua bentuk ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihan dan kelemahan kedua bentuk itu dapat dilihat dalam table berikut.
LINEAR
KELEBIHAN KELEMAHAN
1. Rinci
2. Lengkap
3. Berurutan 1. Membosankan
2. Membingungkan dalam penomoran
3. Hubungan antaraspek tidak akan tergambar
4. Aspek yang sekelas/setara akan sulit ditemukan
5. Sulit membedakan unsure inti dan bukan inti

MAIN MAP
KELEBIHAN KELEMAHAN
1. Konsep akan mudah dibaca
2. Hubungan antaraspek mudah terlihat
3. Dapat langsung menunjukkan unsure inti dan bukan inti
4. Aspek yang setara akan tampak jelas 1. Membutuhkan ketelitian dan kecermatan dalam memahami konsep
2. Rumit dalam penyusunannya
3. Harus jelas hubungan antar aspek

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Bahan Ajar dan Media. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Materi Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Indikator. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional


3. Prinsip kecukupan (adequacy) dalam pengembangan materi ajar bahasa dari sisi peserta didik dan konten/isi.
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
Dari sudut siswa, materi ajar harus seuai dengan siswa yang akan belajar. Siswa harus dilihat usianya, lingkungannya, budayanya, sosialnya, psikologinya, dan latar belakangnya. Siswa SD, SMP, dan SMA akan mendapatkan materi yang berbeda. Sehingga siswa mendapatkan materi yang pas/cukup sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
Hal lain yang harus diperhatikan dalam pengembangan materi ajar adalah keluasan dan kedalaman materi. Keluasan materi adalah menggambarkan berapa banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran. Kedalaman materi adalah seberapa detail konsep-konsep yang harus dipelajari/dikuasai oleh siswa.
Sebagai contoh, materi menulis karangan di SD, SMP, dan SMA diajarkan. Namun keluasan dan kedalaman pada setiap jenjang pendidikan tersebut akan berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin luas cakupan aspek proses fotosintesis yang dipelajari dan semakin detail pula setiap aspek yang dipelajari.
Sesuai hal di atas pengembangan materi ajar harus cukup memadai baik dari segi kebutuhan siswa maupun cukup kedalaman dan luasnya. Hal ini dilakukan agar pencapaian tujuan pembelajaran lebih tepat dan cepat.
Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Bahan Ajar dan Media. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Materi Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Indikator. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

4. Pengembangan materi ajar Bahasa Indonesia Standar Kompetensi Menulis.
Tema : BUDI PEKERTI
SK : Mengungkapkan kembali pikiran, perasaan, dan pengalaman dalam cerita pendek
KD : Menuliskan Kembali dengan Bahasa Sendiri Cerita Pendek yang Pernah Dibaca
Menuliskan kembali segala sesuatu yang pernah kamu baca merupakan salah satu perwujudan keterampilan menulis. Keterampilan itu dapat kamu kembangkan dengan banyak membaca, baik membaca teks narasi, persuasi, argumentasi, atau bahkan cerpen. Dengan demikian, kamu pun dapat berlatih menulis dengan cara menuliskan kembali segala sesuatu yang pernah kamu baca.
Pada pembelajaran kali ini kamu akan menuliskan kembali dengan bahasa sendiri cerpen yang pernah kamu baca. Aktivitas yang harus kamu lakukan adalah (1) mengidentifikasi alur, tokoh, dan latar cerpen, (2) mengidentifikasi ide pokok cerpen, (3) membuat kerangka cerita berdasarkan cerpen yang dibaca, (4) mengembangkan kerangka cerita menjadi cerita yang utuh, serta (5) menilai dan menyunting hasil penulisan kembali cerpen.
A. Mengidentifikasi Tokoh, Alur, Latar, dan Tema Cerita
Agar dapat menuliskan kembali dengan bahasa sendiri cerpen yang dibaca, kamu harus memahami dulu cerpen yang akan kamu tuliskan kembali. Hal itu berarti kamu harus mengidentifikasi tokoh, alur, latar, dan tema cerita tersebut.
Untuk itu, bacalah cerpen “Penipu yang Keempat” berikut dengan saksama! Identifikasilah tokoh, alur, latar, dan tema cerpen tersebut!
Agar kegiatan ini berjalan efektif, kerjakan sesuai dengan petunjuk berikut!
a. Bentuklah kelompok diskusi yang anggotanya berjumlah antara 5—6 orang!
b. Tiap anggota kelompok membaca cerpen yang berjudul “Penipu yang Keempat”.
c. Secara kelompok jawablah pertanyaan berikut!
1) Siapakah tokoh-tokoh cerita tersebut?
2) Bagaimanakah gambaran watak tokoh?
3) Bagaimana alur ceritanya?
4) Di mana dan kapan peristiwa itu terjadi?
5) Apa tema ceritanya?
d. Tiap kelompok harus menuliskan jawabannya dalam buku tugas!
e. Laporkan hasil kelompok untuk mendapatkan tanggapan dari kelompok lain!

PENIPU YANG KEEMPAT

Dia adalah penipu ketiga yang datang kepadaku hari ini. Dengan menampilkan kesan orang lapar dan lelah, dia, seorang lelaki yang baru kukenal, minta uang kepadaku. Katanya, ia harus segera pulang ke Cikokol karena anaknya sedang sakit di sana. Tetapi katanya, ia tidak bisa berangkat kecuali aku mau bermurah hati memberinya ongkos perjalanan.
Tak peduli adakah desa yang bernama Cikokol, tak peduli apakah benar anak lelaki itu sedang sakit di sana, bahkan tak peduli apakah aku akan menjadi orang berhati murah, permintaan ongkos jalan itu kukabulkan. Seribu rupiah segera berpindah dari tanganku ke tangan l;aki-laki itu.
Sebagai imbalan, aku menerima sekian banyak pujian dan doa-doa keberkahan. Setelah membungkuk dalam-dalam, laki-laki itu keluar halaman dan pergi ke arah terminal.
Tadi pagi, seorang perempuan mengetuk pintu rumahku. Ia memperlihatkan kesan seorang perempuan saleh dan datang kepadaku minta sumbangan. Katanya, ia diutus oleh sebuah yayasan pemelihara anak-anak yatim piatu di Banyuwangi. Ia tunjukkan surat-surat berstempel sebagai bukti jati dirinya. Dan akhirnya ia berkata bahwa yayasan yang mengutusnya sangat memerlukan bantuan dana. Tanpa bantuan semacam itu katanya, anak-anak yatim piatu di sana akan bertambah sengsara.
Tak peduli benar-tidaknya cerita perempuan itu, tak peduli palsu-tidaknya surat-surat yang dibawanya, permintaannya akan dana kupenuhi. Seribu rupiah kuserahkan kepadanya dan aku pun mendapat penghargaan berupa kata-kata pujian dan doa.
Kulihat mata perempuan itu berseri-seri. Mungkin ia merasa senang karena disangkanya aku tak tahu betapa mudah membuat stempel palsu dan betapa jauh kota Banyuwangi dari rumahku. Atau ia mengira aku seorang yang menjalankan perintah agama dengan baik karena tidak berburuk sangka kepada orang yang baru kukenal.

@

Tak lama sesudah perempuan itu pergi, datanglah tamu lain. Kali ini seorang lelaki yang memberi kesan amat lugu. Dia membawa bungkusan agak panjang berisi lap bulu ayam serta empat pisau dapur. Kata lelaki itu, barang-barang yang dibawanya adalah buatan anak-anak penyandang cacat di kota Solo. Dia menawarkan barang-barang itu kepadaku dengan harga, kukira tiga kali lipat harga sewajarnya.
“Yah, Pak. Apalah arti harga yang saya tawarkan bila mengingat nasib anak-anak cacat itu.”
“Sampean betul. Kalau dihitung harga keseluruhan barang yang sampean bawa hanya dua belas ribu. Uang sebanyak itu bukan hanya sedikit bagiku dan bagi para anak cacat itu, melainkan juga akan menyulitkan sampean. Tidak mudah sampean menjaga uang itu tetap utuh sampai ke Solo yang jaraknya 300 kilometer dari sini.”
“Memang tidak akan utuh sampai ke Solo, sebab saya berhak menggunakannya sebanyak 25 persen untuk transpor dan uang makan.”
“Demikian pun sampean masih sulit. Biaya pulang-pergi dari sini ke Solo dengan kendaraan apa saja minimal sembilan ribu rupiah. Bila sampean harus makan tiga kali saja, sampean harus mengeluarkan lagi uang minimal seribu lima ratus. Sungguh, sampean tetap dalam kesulitan karena sampean tak mungkin memberikan uang hanya seribu lima ratus kepada anak-anak cacat itu.”
Kulihat laki-laki itu bingung. Tangannya bergerak tak menentu. Mungkin dia ingin berkata sesuatu, tapi lama kutunggu tak sepatah kata pun terucap.
“Apabila sampean bingung, aku akan membantu mengatasinya. Aku akan bayar dua belas ribu untuk semua barang yang sampean bawa ini. Kemudian pergilah ke pasar dan sampean mendapat barang-barang sejenis dan sejumlah ini hanya dengan empat ribu rupiah. Sampean masih punya untung delapan ribu dan modal sampean tak sedikit pun berkurang. Gampang sekali, bukan ?”
Laki-laki itu membeku dan kelihatan tersiksa. Padahal aku tak bermaksud menyakitinya.
“Sampean bisa terus berjualan pisau dapur dan lap bulu ayam atas nama anak-anak cacat di Solo itu selama sampean suka. Apabila dalam perantauan ini sampean bisa melakukan sepuluh kali saja transaksi seperti ini, keuntungan sampean mencapai delapan puluh ribu. Dengan membawa uang sebanyak itu, sampean bisa pulang ke Solo untuk menggembirakan anak-anak cacat itu.”
Tak peduli akan tamuku yang semakin bingung itu, kukeluarkan uang dua belas ribu rupiah. Mula-mula tamuku kelihatan ragu, namun kemudian diterimanya juga uang itu. Empat pisau dapur dan dua lap bulu ayam menjadi milikku.
Selesai memasukkan uangnya ke dalam saku, tamuku pamit. Kukira dia sangat canggung dan serba salah tingkah. Kata-katanya pun terbata. Namun, aku melepasnya dengan kelayakan karena aku tak punya beban pikiran. Sebaliknya aku percaya, laki-laki itu masih bingung memikirkan sikapku padanya.
Mungkin laki-laki itu menertawakan diriku karena aku mengajarinya cara menipu yang sudah lama menjadi modus-operandi-nya. Tanpa kuajari pun dia akan melakukan apa yang kukatakan padanya.
Tetapi mungin dia percaya bahwa sikapku tulus karena pada galibnya dua belas ribu tidak akan mudah keluar dari orang yang tidak memiliki penghayatan tinggi terhadap maksud baik orang lain.
Kemungkinan ketiga, laki-laki itu menganggap aku demikian naïf karena aku tidak memperlihatkan sikap curiga kepadanya. Oh, andaikan laki-laki itu tahu bahwa tak satupun perkiraannya benar-benar tepat.
Dan mengapa orang tidak suka mencoba menikmati keindahan seni penipuan. Perempuan yang mengaku utusan yayasan yatim piatu di Banyuwangi itu. Kalau bukan orang yang benar-benar berbakat dia takkan berhasil acting sebagai tokoh yang dilakonkannya. Kalau bukan orang yang benar-benat teguh, dia tidak akan berani untung-untungan minta dana kepadaku. Sebab, besar kemungkinannya aku akan mengambil sikap lugas dengan membuka kedoknya. Jadi, perempuan itu telah menjadikan bakat, keteguhan dan keberanian menghadapi kemungkinan dipermalukan. Ketiganya diartikulasikan dengan baik sehingga menjadi sajian artistik yang bisa kunikmati.

@

Hari ini ketika waktu lohor belum lagi tiba, aku sudah berhadapan dengan tiga penipu. Mereka aktor-aktor yang baik dan aku menyukai mereka. Ingin rasanya aku lebih lama berhadap-hadapan dengan mereka.
Sayang, perempuan yang mengaku dari Banyuwangi itu kira-kira sudah empat jam berlalu. Lelaki yang mengaku menjualkan barang buatan penyandang cacat dari Solo juga berangkat tak lama kemudian. Tetapi lelaki dari Cikokol itu? Dia belum lama berlalu dan yakin dapat menemukannya kembali di kota kecamatan ini.
Aku mengganti kaos oblong yang kupakai dengan baju lengan panjang, kain sarung dengan pantalon. Topi pun kusambar dari cantelannya. Kemudian aku bersicepat, bukan ke arah terminal melainkan ke arah pasar.
Lelaki dari Cikokol saya jamin ada di sekitar pasar, bukan di terminal. Lihatlah, dia sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Melihat gerak-gerik dan gayanya berbicara, kuyakin ia sedang mengulangi tipuannya. Tapi kulihat calon korbannya menghindar.
Seperti ular kehilangan mangsa yang sudah dililitnya, laki-laki dari Cikokol itu termangu sendiri. Namun, matanya yang licik dan awas mengalihkan pandang kepadaku. Oh, ternyata orang memang mudah tertipu.
Lihatlah, lelaki Cikokol itu pangling hanya karena aku berganti pakaian. Dia mendekatiku dan aku siap menikmati tipuannya yang kedua. Dari jarak beberapa langkah, kulihat dia menunduk dan mimik wajahnya mendadak berubah. Bukan main, dia kelihatan seperti orang amat bingung.
“Pak, maaf saya mengganggu. Saya baru kena musibah ; uang saya dicopet orang. Padahal saya harus membeli obat untuk istri saya yang baru mel….”

@

Mendadak lelaki Cikokol itu menghentikan kata-katanya. Kedua matanya terbuka lebar dan wajahnya tegang. Dan kegugupannya gagal disembunyikan ketika lelaki Cikokol itu mengenali kembali diriku. Tetapi dia seniman pantomim yang baik. Kunikmati dengan saksama ketegangan wajahnya yang perlahan-lahan mencair. Kini kesan malu terlihat di sana. Hanya sepintas, sebab lelaki Cikokol itu akhirnya malah tersenyum. Aku pun membalasnya dengan senyum pula.
“Eh, Bapak, saya kira siapa,” katanya sambil nyengir. Aku pun ikut nyengir. Dan dia tersipu-sipu dan kelihatan salah tingkah, padahal aku tetap ramah padanya.
“Maaf Pak, saya telah menipu Bapak dan mencoba akan mengulanginya,” katanya agak gemetar.
“Tenang. Tenanglah orang Cikokol ; sejak semula aku sadar dan mengerti sampean menipuku.”
“Bapak meminta uang Bapak kembali ?”
“Hus ! Yang kuminta adalah kelanjutan cerita tentang uang yang dicopet orang dan tentang istri sampean yang baru melahirkan.”
Ah, Bapak bisa saja. Bapak tentu tahu itu cerita akal-akalan?”
“Ya, hanya orang tolol yang akan percaya cerita seperti itu. Tetapi aku ingin mendengarkannya dan aku tidak main-main.”
“Ah, Bapak. Daripada mendengarkan cerita yang bukan-bukan, lebih baik Bapak kuberi tahu alasan mengapa aku terpaksa jadi penipu.”
“Usul sampean baik juga. Tetapi bolehkah saya minta jaminan bahwa cerita sampean nanti bukan omong kosong?”
“Demi Tuhan, saya akan bercerita sebenar-benarnya.”
Diawali dengan sumpah, wong Cikokol itu memulai cerita yang sangat terasa sebagai pembelaan dirinya. Dan sumpah itu membuat apa yang katakannya menjadi sebuah penipuan yang bermutu tinggi.
Agar aku bisa lebih lama menikmati sajian istimewa itu, aku harus bisa mengendalikan perasaan sebaik mungkin. Dan aku berhasil. Sampai lelaki Cikokol selesai mengemukakan segala dalih, mengapa dia terpaksa jadi penipu, aku tetap bersikap sungguh-sungguh mendengarkannya, bahkan menikmatinya. Lelaki Cikokol itu pun kelihatan demikian yakin bahwa dirinya berhasil menipuku menjadi penipu yang paling unggul.
Namun, apa jadinya bila orang Cikokol itu tahu bahwa ada penipu lain yang jauh lebih pandai, yakni dia yang hari ini memberi uang empat belas ribu kepada tiga penipu teri. Dengan empat belas ribu itu dia berharap Tuhan bisa tertipu lalu memberkahinya uang, tak peduli dengan cara apa uang itu didapat. Dan aku yakin hanya seorang penipu sejati bisa sangat menyadari akan penipuannya.

(Sumber : Kumpulan Cerpen Nyanyian Malam, Karya Ahmad Tohari)

B. Membuat Kerangka Cerita Berdasarkan Cerpen yang Dibaca
Setelah mengidentifikasi unsur cerita yang meliputi tokoh, alur, latar, dan tema cerita berarti kamu telah memahami cerita yang akan kamu tuliskan kembali.
Selanjutnya, berdasarkan pemahamanmu terhadap cerpen “Penipu yang Keempat” tersebut, secara individual buatlah kerangka ceritanya. Kerangka cerita memuat urutan pokok-pokok peristiwa yang menunjukkan urutan penyajian peristiwa dalam cerita yang akan kamu tulis. Karena cerpen “Penipu yang Keempat” menjadi dasar penulisan ceritamu, penyusunan kerangka juga harus mengacu pada cerpen itu.

C. Mengembangkan Kerangka Menjadi Cerita yang Utuh
Berikut ini kamu akan berlatih untuk menuliskan kembali cerpen yang kamu baca. Bersama kelompokmu, kamu sudah mengidentifikasi tokoh, alur, latar, dan tema cerita. Kamu juga sudah membuat kerangka cerita. Saatnya kini kamu mengembangkan cerita.
Berdasarkan kerangka cerita yang telah kamu buat, buatlah cerita sesuai dengan versimu sendiri! Kamu harus mengembangkan setiap peristiwa dalam kerangka cerita. Ingatlah, kamu harus menuliskan kembali cerpen itu dengan bahasamu sendiri, dengan gayamu sendiri, tetapi tetap pada rambu-rambu cerpen yang asli! Jika perlu, di samping menggunakan narasi, gunakan juga dialog agar cerita menjadi lebih menarik!

D. Menilai dan Menyunting Hasil Penulisan Kembali Cerpen
Untuk mengetahui hasil pekerjaanmu, lakukan kegiatan berikut!
1. Tukarkanlah cerita yang kamu buat dengan cerita milik temanmu!
2. Berikan komentar dengan menunjukkan kelebihan dan kekurangan karya temanmu itu!
3. Nilailah berdasarkan rambu-rambu penilaian berikut!


NO ASPEK PENILAIAN SKOR MAKSIMAL SKOR YANG DIBERIKAN
1 Pengembangan cerita (tokoh, alur, latar) sesuai dengan cerita yang ditulis kembali. 20
2 Pengembangan cerita sesuai dengan kerangka cerita yang sudah dibuat. 20
3 Pengembangan alur cerita menarik dan runtut. 20
4 Penggunaan bahasa sesuai dengan suasana cerita. 20
5 Penggunaan dialog sesuai dengan keperluan cerita. 20
JUMLAH

4. Setelah dinilai, kembalikan hasil tulisan temanmu!
5. Berdasarkan hasil komentar dan penilaian temanmu, suntinglah cerpen hasil penulisan kembali itu! Perhatikan, mungkin ada bagian-bagian alur yang hilang, ada tokoh-tokoh yang kurang sesuai dengan tokoh dalam cerpen yang asli, atau mungkin bahasanya perlu kamu perbaiki!
6. Jika sudah selesai, tempelkan hasil pekerjaanmu di kelas! Biarkan teman-temanmu membacanya. Kamu juga harus melihat hasil kerja temanmu.

Minggu, 23 Mei 2010

PENDIDIKAN MASA KINI

PENDIDIKAN MASA KINI

Membangun Indonesia pasca reformasi akan lebih berat. Selain harus menjalankan roda pembangunan, kita juga harus berhadapan dengan globalisasi, revolusi industri, revolusi informasi, dan reformasi itu sendiri secara bersamaan. Ini berarti, disamping harus mengejar ketinggalan dan meninggalkan gaya hidup abad pertanian, juga harus secara sadar berpikir dan bertindak sesuai tuntutan abad informasi. Bahkan kita harus ikut memberikan sumbangan dalam mengarahkan perkembangan masyarakat abad informasi sesuai dengan pandangan hidup bangsa. Dengan kata lain, kita tidak akan mampu menentukan masa depan bangsa sendiri apabila kitya tidak mampu menangani dan menciptakan informasi. Kita harus menguasai informasi strategis seperti peta kekayaan alam, peta politik, peta sosial budaya, tanah air, pengembangan cara kerja di bidang produksi tertentu bahkan informasi dunia luar serta menguasai sistem pengkomunikasiannya di dalam dan di luar.
Tantangan-tantangan tersebut berpengaruh terhadap semua sistem pembangunan nasional, termasuk sistem pendidikan. Pendidikan sebagai sub sistem pendukung pembangunan nasional memerlukan sutu sistem yang kondusif. Suatu sistem yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan ahli dalam bidangnya. Tentu saja bukan hanya memahami manajemen dan teknologi, tetapi sekaligus sebagai pekerja, negarawan, budayawan, teknolog, dan manusia susila. Manusia canggih tersebut hanya dapat direkayasa melalui pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, untuk mengisi pembangunan pasca reformasi, peningkatan kualitas pendidikan merupakan keharusan yang tidak dapat ditunda dan ditawar lagi.
Masyarakat Indonesia masih menghadapi masalah-masalah pendidikan yang berat, baik berkaitan dengan kualitas, relevansi, efektifitas, maupun efesiensi pendidikan. Indikator yang menunjukkan beratnya masalah tersebut antara lain tingkat pendidikan yang masih rendah, guru yang tidak berkualitas, usia sekolah yang tidak punya kesempatan belajar, lulusan yang tidak memiliki dayatawar, dan masalah kecil lainnya seperti tawuran sampai pemalsuan ijazah.
Mentalitas masyarakat Indonesia, terutama masyarakat agraris, belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dan berperan aktif dalam menciptakan masa depan yang cerah. Berbagai kekurangan atau kelemahan tersebut antara lain;
a. mentalitas yang meremehkan mutu;
b. bekerja keras kalau terpaksa;
c. suka menerobos demi kekayaan dan pangkat;
d. percaya pada tahayul;
e. tidak percaya pada diri sendiri;
f. sifat tidak berdisiplin murni;
g. tukang tiru; dan
h. segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatan, putusan, kekuatan, dan pikiran sendiri.
Untuk menghadapi hambatan dan tantangan sebagai konsekuansi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni diperlukan manusia yang berkualitas. Sedangkan manusia yang berkualitas memiliki ciri; beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif,terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif, serta sehat jasmani dan rohani seperti yang diamanatkan GBHN.
Manusia berkualitas seperti yang diharapkan di atas hanya dapat diwujudkan melalui pendidikan yang komprehensif, terpadu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungannya. Untuk itu diperlukan suatu perubahan sosial yang mengarah kepada pendidikan berbentuk pendekatan dasar dalam proses perubahan tersebut. Karena pendidikan adalah kehidupan, maka kegiatan belajar harus mengacu kepada lingkungan kehidupan dan kebutuhan peserta didik. Pemecahan masalah secara reflektif sangat penting dalam kegiatan belajar yang dilakukan melalui kerjasama secara demokratis.
Pendidikan juga harus peka terhadap perkembangan masyarakat dan segala aspek kehidupan manusia yang menyangkut setiap individu. Karena pendidikan berperan dan berpengaruh langsung terhadap perkembangan manusia dengan seluruh aspek kepribadiannya. Kalau bidang lain seperti ekonomi, pertanian, perindustrian, teknologi, perdagangan berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi kepentingan manusia, maka pendidikan berurusan langsung dengan pembentukan manusia. Dengan kata lain pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya.
Untuk menghasilkan manusia yang sesuai dengan model yang dikehendaki tentu memerlukan proses yang terencana, sistematis, dan berangsur-angsur. Pendidikan harus dimulai sedini mungkin (sejak lahir) kemudian diintensifkan melalui pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah sesuai dengan asas life long education yang di dalamnya terkandung tujuan learning to be and the learning society. Dengan demikian, tidak akan terjadi konflik atau diskotinuitas keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sehingga pendidikan sebagai alat nation and character building tidak hanya memberikan materi sesuai dengan bidang studi (program of studies) dan tidak hanya mentrasformasikan seperangkat ilmu pengetahuan (transfer of knowledge). Yang paling penting dari pendidikan adalah bagaimana mengkondisikan lingkungan yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri dan kemampuannya secara optimal menjadi berkualitas tinggi (good citizen).
Pada hakekatnya pendidikan harus dilihat sebagai tujuan dan proses. Pendidikan dilakukan untuk mencapai sesuatu melalui proses yang terjadi sepanjang hayat. Sedangkan dari segi pelaksanaannya, keterwujudan tujuan pendidikan bergantung kepada prosesnya (the medium is the message).
Hal di atas penting karena pendidikan bukan semata-mata berfungsi sebagai sarana sosialisasi. Pendidikanjuga bukan sekedar prosrs penerusan informasi yang terlepas dan hampa makna. Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat dari perwujudan pembentukan dirisecara utuh. Artinya pengembangan segenap aspek potensi dalam rangka pemenuhan semua komitmen manusia sebagaiindividu dan sebagai warga masyarakat.
Implikasinya pendidikan harus menyediakan berbagai pilihan agar peserta didik berkembang secara utuh. Untuk itu pendidikan pasca reformasi harus memperhatikan hal-hal di bawah ini.
Pertama,pendidikan harus benar-benar membentuk dan mengembangkan kemauan dan kemampuan berpikir melalui proses berpikir yang efektif dan efisien. Suatu kemempuan khusus yang harus dibentuk secara sistematis adalah kemampuan berfikir efistemologis yang bukanhanya kritis terhadap pikiran orang lain, melainkan juga kritis terhadappendapat diri sendiri.
Kedua, pendidikan perlu ditekankan pada belajar pemahaman, yaitu belajar untuk memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam setiap bahan pembelajaran, sehingga siap untuk menghadapi berbagai perubahan dan permasalahan yang ditimbulkannya. Hal tersebut mengingat perubahan merupakan ciri yang pasti dalam kehidupan ini. Kalau kita melihat kecenderungan sekarang, proses transformasi menuju masyarakat informasi akan menjadi komoditas strategis. Siapa yang menguasai informasi dan mamapu mndayagunakannya akan menguasai dunia. Dengan demikian, dituntut manusia-manusia yang bukanhanya tahu tentang ilmu dan teknologi, tetapi mampu memahami dan mendayagunakannya dalam kehidupan.
Ketiga, pendidikan harus dilakukan secara terpadu dan serasi , baik antara sektor pendidikan dan sektor pembangunan lainnya, antardaerah, maupun antarberbagai jejang dan jenis pendidikan. Disamping itu, karena sebagian besar permasalahan bersumber dari keterkaitan rumit antara lingkungan alamiah denagn lingkungan buatan kita, maka pendidikan sejak dini perlu dijadikan kebutuhan.
Akhirnya, pendidikan harus dapat membantu peserta didik dalammemahami permasalahan sekarang dan kecenderungan masa depan. Pendidikan bukan hanya bersumber dari wawasan negara maju, melainkan juga yang benar-benar bertolak dari perspektif global dalam memperkirakan kemungkinan-kemungkinan arah masa depan serta dampak berbagai tindakan dan kebijakan yang dilakukan sekarang.
Program pendidikan di msemua tingkat harus dirancang berdasarkan rencana kebutuhan yang jelas (educational planning based on manpower requirements). Disamping itu perlu dikembangkan pengalaman belajar yang kondusif yang mampu mengembangkan pemahaman multikultural, kemampuan antisipatoris, serta kemampuan dan keterampilan mendayagunakan sumber-sumner belajar. Hal ini penting untuk membentukmanusia yang berkualitas, baik fisikal, mental spiritual, maupun religius.
Hal ini berarti, bila tujuannya bersifat afektif dan psikomotorik, tidak cukup hanya diajarkan menggunakan metoda ceramah dan membaca buku (sumber) yang mengandung kognitif. Namun perlu penghayatan yang disertai dengan pengamalan nilai-nilai kognitif dan afektif yang dimanifestasikan dalam prilaku (behavioral skill) sehari-hari.

Jumat, 05 Desember 2008

PENDIDIKAN SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL

BERbicara pendidikan tidak mungkin lepas darai Proses Belajar Mengajar. Guru menjadi ujung tombak dalam pendidikan. Namun banyak hal perubahan pada bidang pendidikan yang tidak dipahami betul oleh guru. Pada kesempatan ini dua hal yang akan dipaparkan yaitu pertama, perubahan paradigma dari mengajar menjadi belajar maksudnya adalah guru bertugas mengkondisikan siswa agar belajar. Jadi tugas guru bukanlah mengajar.
Perubahan paradigma di atas melahirkan KTSP lengkap dengan pembaruan lainnya mulai dari life skill, Contekstual Teaching anf Learning, Cooperative Learning, dan sebagainya. Seorang guru yang profesional tentu saja harus memahami betul hal di atas. Tentu saja yang lebih penting lagi melaksanakannya.
Kedua, Materi yang disampaikan oleh guru dipahami oleh siswa sangat sulit berarti guru sudah salah menjadi guru. Guru pada jaman sekarang bukan yang serba tahu, guru hanyalah pasilitator, konseler, teman, dan posisi lainnya yang membuat siswa nyaman di dekat guru.
Nilai pada raport dan Ijazah menjadi tidak penting. Yang terpenting adalah kompetensi yang semakin baik dan meningkat.
Selamat kepada seluruh guru di Indonesia karena Kebangkitan Pendidikan sudah dimulai. Jadilah guru yang profesional.
Pemerintah kini tersadar bahwa pendidikan sangat penting. Ekonomi yang selama ini kita agungkan telah membuat Indonesia terpuruk.